logo

DPD RI Micro Site

Sabtu, 25 November 2017 | Edisi : Indonesia
Suara Senator

DPD: Pakai Narkoba Sama Saja Teken Kontrak Sampai Mati

Rabu, 30 Agu 2017 - 20:34:20 WIB
M Anwar, TEROPONGSENAYAN
96narkoba.jpg
Sumber foto : Istimewa
Ilustrasi

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)--Komite III DPD RI menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan LSM Gerakan Nasional Anti Narkotika (GRANAT) dan Generasi Anti Narkotika Nasional (GANN), Selasa (29/8/2017). RDP itu dalam rangka pengawasan atas pelaksanaan UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika

Saat ini sebagaimana dilansir oleh Badan Narkotika Nasional (BNN), terdapat 66 jenis narkotika baru yang belum terdeteksi. Dari sisi kesehatan, penyalahgunaan narkotika telah menjadi endemi yang harus ditangani secara serius. Adapun dari sisi tindak pidana, penyalahgunaan narkoba dikategorikan sebagai extraordinary crime mengingat dampak yang ditimbulkan yakni hilangnya generasi penerus bangsa. 

“Penyebaran narkotika dilakukan secara terorganisir, sistematis dan dengan dukungan dana besar serta teknologi canggih,” ujar Fahira Idris, pimpinan Komite III DPD RI saat membuka dan memimpin RDPU dengan dengan GRANAT dan GANN, Selasa (29/8/2017).

Fahira mengatakan saat ini setidaknya sekitar 50 anak-anak Indonesia meregang nyawa karena narkotika dan sekitar 60 juta penduduk merupakan obat terlarang tersebut. “Dari data tersebut dapat diperkirakan tidak ada satupun wilayah di Indonesia yang tidak tersentuh narkoba,” ujarnya.

Sementara itu, Suhaimy senator dari NTB pada sesi diskusi RDPU mempertanyakan perihal pemusnahan barang bukti tindak pidana narkoba yang harus dilakukan secara transparan.

Sedangkan senator Mevin Sadipur Komper dari Papua Barat berpendapat soal adanya modus baru penyalahgunaan narkoba di Papua dengan menggunakan lem aibon.

“Pada tahap awal para pengedar narkoba akan memberikan secara gratis kepada anak-anak, hingga terjadi ketergantungan dan mencari narkoba untuk digunakan. GRANAT maupun GANN harus melakukan sosialisasi pada masyarakat terkait adanya jenis baru dari narkoba,” ujarnya.

Afnan Hadikusumo senator dari Yogya meminta agar orangtua juga dilibatkan dalam proses rehabilitasi pecandu narkoba.

Sementara senator asal Sulut, Stefanus BAN Liows meminta pendapat dari GRANAT dan GANN modus dan operandi dari pengedar yang menyelundupkan narkoba dari pelabuhan, padahal di tempat-tempat tersebut telah ditempatkan petugas.

Menanggapi seluruh pandangan senator, Sekjen DPP Granat, Brigjen (P) Drs. H. Ashar Soerjobroto menegaskan pemberantasan narkoba harus menjadi program dari seluruh bangsa Indonesia bukan hanya pemerintah.

Tata kelola pencegahan dan pemberantasan narkoba serta komitmen pimpinan menjadi titik lemah Indonesia.

Menurutnya, setidaknya terdapat 4 hal yang bisa dilakukan untuk menyelematkan bangsa dari penyalahgunaan narkoba. Pertama, melakukan pencegahan masuknya narkoba terutama pintu masuk narkoba.

“Saat ini peredaran narkoba masuk ke Indonesia melalui pelabuhan laut yang dilakukan melalui peti kemas. Pemeriksaan terhadap setiap peti kemas yang masuk melalui pelabuhan harus dilakukan,” jelasnya.

Lanjutnya, langkah kedua, perlu dibentuk satgas anti narkoba hingga ke level desa dan dilembagakan agar memiliki payung hukum. Ketiga, agar dilakukan alternatif development, yang ditujukan masyarakat atau penduduk Indonesia yang melakukan penanaman ganja sebagai mata pencaharian. Keempat, mencegah dan memberantas pengendalian bisnis narkoba yang dilakukan dari lapas dan rutan.

Secara khusus terkait upaya revisi UU 35/2009 tentang Narkotika, GRANAT menyatakan bahwa undang-undang tersebut mengatur banyak hal sehingga pembahasan atas beberapa hal tidak fokus.

“Oleh karena itu GRANAT mengusulkan perlunya Undang-undang yang secara khusus mengatur tentang Pemberantasan Tindak Pidana Narkotika; Undang-undang tentang Badan Narkotika Nasional dan Undang-undang tentang tindak pidana narkotika,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Srikandi GANN, Rika Puspita Sari menyatakan publik mempunyai peranan penting dalam pencegahan dan pemberantasan narkotika, baik dilakukan secara mandiri maupun kelompok.

GANN juga menekan pentingnya dunia pendidikan untuk terlibat dalam pencegahan narkoba antara lain melalui kurikulum. Dia menambahkan, perlu memasukan pengetahuan dan pemahaman tentang narkotika dalam mata pelajaran dan/atau kurikulum pendidikan Indonesia memang salah satu cara yang baik.

Namun, perlu dipertimbangkan perihal kemampuan guru-guru terhadap pengetahuan dan pemahaman tentang narkotika yang tampaknya masih kurang juga. “Cara yang efektif adalah pendidikan informal yang dilakukan oleh komunitas yang memberi perhatian pada isu narkoba,” tegasnya.(yn)